Mengenal Lebih Dalam Tentang Lensa Kamera

Mengenal Lebih Dalam Tentang Lensa Kamera

Saat mendenagar kata “Fotografi” tidak sedikit orang langsung membayangkan kamera. Kamera adalah benda yang paling utama di dalam aspek Fotografi. Namun, kamera bukan satu-satu nya benda yang paling berharga dari Fotografi. Selain kamera, lensa adalah benda yang sangat berarti bagi seorang fotografer, mengapa begitu? Karena tanpa ada nya lensa, kamera tidak lah lengkap dan tidak akan menghasilkan foto yang bagus. tapi, apakah anda tahu bahwa lensa kamera bisa lebih mahal harga nya di bandingkan dengan body kamera nya sendiri. Lantas apa yang membuat lensa begitu mewah dan mahal dibandingkan dengan body kamera?

Mengapa Lensa fotografi itu Mahal?

Lensa dijual dengan berbagai macam harga, mulai yang murah sampai yang sangat mahal dan memiliki beberapa kelas yang berbeda. Ada beberapa alasan yang mendasari beberapa perbedaan harga tersebut yang akan sama-sama kita bahas disini. Bagi pemula mungkin bertanya mengapa lensa pro level berharga jauh lebih mahal ketimbang lensa standar. atau pertanyaan lain mengapa beberapa brand menjual lensa dengan harga yang sangat tinggi, seperti carl zeiss dan leica. Beberapa pertanyaan tersebut memang cukup menarik untuk dibahas dan tentunya merupakan pertanyaan yang falid. Sebenarnya banyak faktor yang membuat lensa itu mahal. Contoh nya seperti yang dibawah ini adalah faktor-faktor penentu harga lensa:

1. Jarak fokus lensa

Lensa yang sangat lebar dan sangat tele biasanya sangat mahal karena desainnya yang rumit. Lensa lebar membutuhkan banyak elemen lensa, dan juga elemen UD (ultra dispersion). Contoh lensa wide yang harganya tinggi yaitu Canon 14mm f/2.8. Lensa ini punya 14 elemen, termasuk elemen aspherical dan UD kedua elemen lensa ini ditambahkan supaya lensa tetap tajam sampai ke ujung foto. Sayangnya elemen ini sangat mahal bahannya.

Lensa telefoto yang sangat jauh jangkauannya juga mahal sekali. Hal ini karena ukuran elemen lensa makin besar jika jarak fokusnya tambah panjang. Motor fokus di dalam lensa juga harus lebih kuat dan besar untuk menggerakkan elemen-elemen lensa. Selain itu, untuk mempertahankan ketajaman foto, dibutuhkan elemen UD seperti yang ada di lensa wide/lebar.

Yang paling murah yaitu lensa 50mm. Lensa dengan jarak fokus ini memiliki hanya 6-8 elemen dan desainnya tidak rumit. Contoh: lensa Canon 50mm f/1.8 II

Desain lensa lebar Canon 14mm f/2.8 II yang kompleks mendorong tingginya harga.


Diagram lensa Canon 50mm f/1.8 yang sederhana (6 elemen) saja.

2. Bukaan lensa

Bukaan/Diafragma lensa semakin besar maka harganya akan semakin mahal karena diameter lensa menjadi lebih besar. Yang paling rumit adalah lensa zoom berbukaan besar. Lensa seperti 24-70mm f/2.8 dan 70-200mm f/2.8 lebih mahal daripada lensa-lensa zoom yang berbukaan menengah atau kecil.

3. Kualitas badan/casing lensa

Ada lensa yang tahan debu dan cipratan air, terbuat dari bahan logam, ada juga yang dari plastik yang ringan tapi rapuh. Ada lensa yang dilengkapi dengan lens hood (topi lensa), ada yang tidak. Makin tinggi kualitasnya tentunya makin mahal.

4. Motor fokus

Motor fokus lensa yang kuat akan membuat autofokus lensa cepat dalam mengunci subjek foto. Biasanya motor fokus di lensa ada kelasnya. Ada yang agak murah, biasanya mengeluarkan suara dan agak pelan saat autofokus. Badan lensa juga berubah menjadi panjang saat fokusnya berubah. Yang kelasnya tinggi autofokusnya lebih cepat, dan senyap. Biasanya badan lensa tidak berubah panjang saat fokus. (istilahnya internal focusing).

5. Peredam getar

Image Stabilization (IS), Vibration Reduction (VR) adalah sebuah fitur lensa untuk mencegah foto blur akibat getaran tangan kita. Fitur ini membuat harga lensa menjadi tinggi terutama lensa zoom telefoto. Lensa zoom telefoto seperti 70-200mm f/2.8 IS/VR hampir dua kali lipat lebih mahal daripada 70-200mm f/2.8 tanpa IS. Hal ini karena penambahan stabilizer yang berkualitas tinggi untuk mengimbangi bukaan lensa yang besar dan desain lensa telefoto zoom yang rumit.

6. Jumlah Produksi

Sebagian lensa diproduksi dalam jumlah banyak karena banyak peminatnya. Lensa yang diproduksi dalam jumlah banyak biasanya lebih murah karena ongkos produksi bisa ditekan dengan dibagi ke setiap lensa. Tapi lensa yang tidak terlalu banyak dibutuhkan harganya akan lebih mahal, seperti lensa telefoto yang sangat jauh, atau lensa perspective correction. Lensa-lensa yang saya sebutkan tadi sangat jarang dibeli fotografer sehingga ongkos produksinya tinggi dan harganya semakin mahal. Kontras dengan lensa kit zoom 18-55mm atau lensa fix 50mm yang banyak diproduksi, sehingga harganya juga menjadi lebih murah.

7. Merek

Merek menyimbolkan reputasi. Merek/sistem kamera juga dapat meningkatkan harga. Misalnya, merek “Leica” terkenal dengan reputasinya sebagai pembuat kamera dan lensa berkualitas tinggi, maka harganya juga dipasang lebih tinggi daripada merek lain seperti lensa Tamron atau Sigma.

Ketujuh kombinasi diataslah yang membedakan harga antara lensa satu dengan yang lain. Sayangnya, semakin tinggi harganya, biasanya semakin baik mutunya.

Lalu, bagaimana kerja lensa? Apa yang dimaksud dengan Aperture? Berikut ini penjelasannya

Aperture dalam Fotografi

Dalam dunia fotografi kita mengenal segitiga exposure, yaitu 3 hal yang merupakan fondasi atau dasar dari prinsip kerja fotografi, yaitu iso (jaman dulu dikenal juga dengan sebutan ASA), speed, dan Aperture (alias bukaan). Apeture disebut bukaan karena sejatinya aperture merupakan sebuah jendela di dalam lensa yang dapat kita atur untuk membuka dan menutup sebesar atau sekecil yang kita perlukan, tentu selama masih dalam batasan yang ditentukan oleh fisik lensa itu sendiri. Aperture ini memiliki beberapa fungsi penting dalam fotografi yang dapat kita sederhanakan sebagai berikut.

  1. Sebagai jendela pada umumnya, aperture ini berfungsi mengatur seberapa banyak cahaya yang masuk ke sensor kamera melalui lensa. Semakin besar ukuran lubang aperture maka semakin banyak cahaya yang dapat melewati lensa dalam satu waktu, begitu pula sebaliknya, jika ukuran lubang aperture sempit, maka hanya sedikit cahaya yang dapat melewati lensa dalam satu waktu, kurang lebih mirip seperti keran air yang dibuka besar maka air mengalir deras, sedangkan jika keran air dibuka sedikit maka air pun akan mengalir kecil.
  2. Aperture ini juga memiliki karakteristik unik dalam fotografi dimana perubahan pada aperture akan mempengaruhi ukuran ruang tajam. Sederhananya, perubahan pada aperture akan mempengaruhi tingkat blur (bokeh) pada background dan foreground foto, serta mempengaruhi seberapa banyak dari objek yang di foto yang tetap tajam dan terkena blur dari lensa.

Pengaturan Besar Kecilnya Lubang Aperture

Pada kamera, sering kali kita melihat tulisan F yang diikuti oleh angka pada layar kamera yang kita gunakan. F yang diikuti oleh angka ini adalah pengaturan aperture, yang juga dikenal dengan istilah F-Stop, yang dapat kita tentukan sendiri ataupun kita dapat meminta kamera memilih aperture berdasarkan kondisi cahaya tergantung mode pemotretan yang kita gunakan.

Angka pada aperture adalah angka berbanding terbalik dengan luas lubang aperture. Artinya, semakin kecil angka aperture, semakin besar lubang aperturenya sehingga semakin banyak cahaya yang dapat melewati lensa, begitu pula sebaliknya, semakin besar angka aperture, semakin kecil lubang aperture dan semakin sedikit cahaya yang dapat melewati lensa. Misalnya, F/1.8 akan memiliki lubang aperture yang lebih besar daripada f/8 sehingga pada f/1.8 jumlah cahaya yang masuk melalui lensa lebih banyak dibandingkan f/8.

Berapa Besar Angka Aperture yang Dapat Dipilih?

Bukaan terbesar, yang artinya angka aperture terkecil yang dapat dipilih dalam pengaturan aperture ini sepenuhnya ditentukan oleh lensa yang digunakan. Misalnya, pada lensa “Canon EF 50mm f/1.8“, bukaan terbesar yang dapat digunakan adalah f/1.8. Lalu ada juga lensa yang memiliki bukaan terbesar mengikuti panjang lensa yang sedang digunakan, seperti misalnya “Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS II “, berarti memiliki bukaan terbeasr f/3.5 jika dalam posisi zoom paling lebar (18mm) dan akan mengecil hingga f/5.6 jika kita melakukan zoom hingga ke posisi zoom paling sempit (55mm), walaupun ada juga lensa yang dapat menjaga ukuran aperture terlepas dari panjang focal lenghtlensa yang digunakan, seperti misalnya “Tamron 17-50mm f/2.8” akan tetap mempertahankan bukaan f/2.8 terlepas dari berapapun panjang lensa yang dipilih antara 17 hingga 50mm.

 

Bukaan terkecil juga tergantung dari konstruksi lensa tersebut, dengan bukaan terkecil biasanya berkisar di angka f/22 hingga f/32. Akan tetapi bukaan terkecil lensa ini tidak terlalu diperhatikan karena pemilihan lensa biasanya lebih menitikberatkan pada bukaan terbesar yang dapat diberikan. Sama seperti bukaan terbesar, beberapa lensa juga memiliki perbedaan bukaan terkecil berdasarkan panjang focal lenght lensa yang sedang digunakan.

Pengaruh Bukaan Terhadap hasil foto

  1. Pada penggunaan bukaan besar, semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera melalui lensa, sehingga dapat digunakan shutter speed yang lebih cepat. Hal ini sangat bermanfaat khususnya apabila memotret di ruangan atau lokasi yang kurang cahaya, karena penggunaan shutter speed yang lebih cepat bisa meminimalisir kemungkinan terjadi gambar goyang/blur akibat gerakan (motion blur).
  2. Apabila kita menggunakan lensa zoom yang besaran bukaan terbesarnya mengikuti panjang lensa (seperti misalnya “Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS II“), kita harus berhati-hati ketika melakukan zooming, karena jika pada posisi zoom terlebar kita menggunakan f/3.5, ketika kita melakukan zooming, bukaan lensa akan mengecil hingga f/5.6 pada posisi zoom tersempit. hal ini akan menghasilkan 2 hal berikut.
    • Jika kita menggunakan mode Auto, Av, P atau sejenisnya dimana pengaturan speed dilakukan oleh kamera (dengan kondisi kita set ISO), maka hasil gambar bisa goyang karena secara otomatis kamera akan melakukan kompensasi berkurangnya cahaya yang masuk dengan memperlambat kecepatan shutter. Jika ISO di set auto, hal tersebut juga bisa terjadi jika ISO sudah berada di tingkat tertinggi yang diatur (biasanya ISO 3200 untuk kamera entry DSLR)
    • Jika kita menggunakan mode Manual, maka gambar akan menjadi lebih gelap karena jumlah cahaya yang masuk ke kamera berkurang tertahan bukaan aperture yang mengecil, serta angka F pada kamera akan otomatis ikut berubah mengikuti bukaan terbesar yang diijinkan lensa. Setelan ISO dan Shutter Speed tidak akan secara otomatis di kompensasi oleh kamera karena mode manual yang kita gunakan.
  3. Pengunaan bukaan besar akan mempengaruhi seberapa blur latar depan dan latar belakang objek yang kita foto. Hal ini biasa disebut dengan istilah Bokeh . Semakin besar bukaan (semakin kecil angka F) yang digunakan, maka akan semakin blur latar di belakan objek. Tentu bokeh ini selain dipengaruhi oleh aperture, juga dipengaruhi oleh panjang lensa, faktor crop sensor, dan beberapa hal lainnya. Besaran ruang tajam ini seringkali disebut juga dengan istilah Depth-of-Field ( DOF).

Pengaruh Aperture terhadap Depth Of Field

Ketika kita mengubah Nilai aperture maka akan berpengaruh terhadap Depth of Field. Depth of Field sendiri adalah area tajam / area fokus pada gambar. Aperture berbanding terbalik dengan Depth of Field, jadi ketika kita atur bukaan aperture terlebar(angka kecil) maka Depth of Field tersempit akan kita dapatkan, sebaliknya jika kita mengatur bukaan aperture tersempit(angka besar) maka Area Depth of Field terluas yang kita dapatkan. Depth of Field Sempit berarti sedikit area fokus dan banyak area blur/tidak fokus. Area blur ini lazim disebut bokeh, anda dapat membaca artikel tentang bokeh untuk mengetahui bokeh lebih jauh.

Pengaturan Aperture ini sangat bermanfaat dalam fotografi jenis apapun, baik itu landscape (pemandangan), portrait (wajah) dan macro. Dalam fotografi landscape biasanya digunakan bukan aperture terkecil (angka besar) sehingga semua area tampak tajam / fokus, baik area foreground atau background, dengan menggunakan lensa wide angel akan dihasilkan gambar yang sangat dramatis. Sedangkan dalam fotografi Portrait kadangkala menggunakan bukaan aperture lebar(nilai kecil) ini adalah untuk mengisolasi subjek agar lebih dominan dan tidak dikacaukan oleh background, dan biasanya menggunakan lensa tele menengah. Dalam fotografi macropun juga berlaku hal yang sama, yakni dengan menggunakan lensa makro ketika kita ingin mengisolasi subjek dan mengaburkan background maka settingan aperture terlebar dapat kita gunakan.

 

Nah pengaturan nilai aperture untuk mengaburkan background, berapa jarak background dan subjek agar tampak blur dapat anda baca dalam artikel mendapatkan bokeh yang indah. Aperture pada setiap lensa berbeda-beda, pada lensa prime biasanya memiliki bukaan sangat lebar (nilai kecil misal. f/1.4), dan pada lensa zoom biasanya memiliki bukaan terlebar f/4. Disinilah kelebihan lensa prime yang dapat menangkap gambar dalam kondisi minim cahaya, anda dapat membaca perbedaan lensa prime/fixed dan lensa zoom untuk mengetahui lebih lanjut.

Mode Auto Aperture (AV/Aperture Value)

Ini merupakan mode semi otomatis yang mengijinkan kita untuk merubah angka aperture secara manual dan shutter speed akan mengikutinya secara otomatis. Mode ini sangat berguna dan menghemat waktu dalam banyak kasus. melalui tampilan live view kita bisa melihat perbedaan DOF setelah merubah angka aperture.

Kelebihan lensa prime

Lensa prime atau disebut lensa cepat karena memiliki bukaan aperture lebar shingga bisa menggunakan shutter speed cepat. dalam banyak kasus lensa prime dengan bukaan aperture lebar memiliki banyak keunggulan seperti menangani kondisi minim cahaya, mengisolasi subjek, dan penggunaan ISO yang lebih rendah. Dengan harga Rp. 5 jutaan kita sudah bisa mendapatkan lensa prime 50mm f/1.4 dengan kemampuan menjanjikan tentunya bila dibandingkan dengan lensa zoom dengan harga sebanding. kemampuan menghasilkan bokeh akan jauh lebih baik dengan jumlah blade lebih banyak dan bentuk yang kebulat-bulatan. elemen didalam lensa prime juga tidak bergerak maju mundur, inilah yang menjadikan kualitas gambar yang dihasilkan lebih konstan. Kelebihan lain adalah lensa ini berukuran lebih kecil dan biasanya berbobot lebih ringan sehingga mudah dibawa kemanapun.

Proses Pembuatan Lensa

Berikut ini beberapa video proses produksi lensa yang berhasil belfot kumpulkan, silahkan menikmati:

  • Proses produksi Lensa Canon 500mm f/4L

Canon 500mm f/4L dipasaran harganya diatas Rp 50 Juta dan memiliki denotasi L yang merupakan kelas tertinggi dalam lensa Canon. Video ini memperlihatkan bagaimana meyulap ratusan jenis material mentah menjadi sebuah lensa yang muahal:

  • Proses pembuatan Lensa Leica

Lensa Leica adalah mercy atau BMW-nya lensa, harganya jauh lebih mahal daripada lensa merk lain namun kualitasnya memang jempolan. Dalam video ini, Leica memperlihatkan bagaiaman sebuah lensa diproduksi layaknya sebuah barang kerajinan, dengan proses yang super teliti dan super kompleks:

  • Proses Pembuatan Lensa Nikkor

Dalam video ini, Nikon memperlihatkan bagaimana optik berkualitas tinggi yang dipakai dalam lensa-lensa mereka di produksi:

  • Proses Pembuatan Lensa Sigma

Sigma adalah produsen lensa dengan harga terjangkau namun kualitasnya bagus. Dalam video indah dibawah ini, Sigma memperlihatkan bagaiaman proses pembuatan lensa di salah satu pabriknya di Aizu, Jepang:

Jenis-Jenis Lensa

1. Lensa Zoom

Lensa zoom adalah lensa yang panjang fokal lensanya bisa diubah-ubah. salah satu lensa zoom yang paling terkenal mungkin sudah anda miliki yaitu lensa kit. Umumnya panjang fokal lensa kit dimulai dari 18mm dan berakhir di 55mm. Lensa kit begitu terkenal karena harganya murah namun kualitasnya masih bisa diandalkan.

Kelebihan utama dari lensa zoom adalah fleksibilitas yang anda bisa dapatkan dalam satu lensa, maksudnya anda tak perlu gonta-ganti lensa lagi untuk bisa mendapatkan jarak fokal lensa yang anda inginkan.

Jika mau memotret dengan fokal lensa lebar tinggal pindah ke rentang fokal lebar seperti 18mm, jika mau memotret dengan jarak fokal tele silakan putar lagi ke posisi 55mm. Demikian umumnya kelebihan lensa zoom dari lensa fix.

2. Lensa Fix

Lensa fix atau lensa tetap (fix = tak berubah) merupakan kebalikan dari lensa zoom, jarak fokal lensa ini tak bisa diubah-ubah.

Anda hanya bisa pasrah dengan fokal lensa yang tertera di bodi lensa tersebut, contohnya jika anda memiliki lensa fix 50mm anda takkan mungkin bisa memotret landscape dan mendapatkan sudut pandang sama seperti lensa 18mm, bahkan sekalipun anda mundur hingga jarak yang jauh tetap hasilnya akan berbeda.

Keuntungan utama dari lensa fix adalah kualitasnya secara rata-rata lebih baik daripada lensa zoom di rentang harga yang sama yah. Mengapa begitu?

Untuk membuat lensa zoom maka dibutuhkan struktur lensa yang lebih kompleks sehingga jumlah elemen dalam lensa pun lebih banyak, secara teoritis semakin banyak elemen yang dilalui cahaya maka kualitas gambar pun akan menurun (diasumsikan kualitas optik elemen lensanya sama).

Selain itu masih ada beberapa keuntungan dari lensa fix seperti harga yang murah, ringan serta memiliki bukaan maksimum yang besar (umumnya di f/1.8 – 1.2). Kekurangan utamanya ya itu, tak bisa zoom hehehe.

Anda harus maju mundur manual dengan kaki sendiri untuk mengkomposisikan gambar, yah hitung-hitung olahragalah.

Dari dua jenis lensa tadi masih ada pembagian juga dengan melihat jarak fokal lensa tersebut, mari kita lihat pembagiannya seperti apa. Oh ya untuk catatan, panjang fokal yang disebutkan di sini adalah panjang fokal yang berlaku untuk kamera format full frame ya, tentu panjang fokalnya akan berbeda dengan APSC.

Itulah kurang lebih penjelasan mengenai lensa kamera, alangkah lebih baik jika anda ingin belajar menjadi fotografer pastikan anda sudah paham tentang lensa dan kamera nya. Karena kamera dan lensa adalah paket lengkap untuk merekam memori yang indah. Sekian dulu informasi kali ini, semoga dapat dipahami.